~ Wednesday, July 27 ~
Permalink

Menaiki Angel

PERINGATAN: Cerpen di bawah ini sangat kacau dan memiliki tingkat randomness yang cukup tinggi karena dibuat dalam waktu kurang dari semalam dan dalam keadaan setengah tidur. Jangan berharap pada logika.

Aku tidak peduli apapun yang ada di pikiran kamu sekarang, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sekarang sedang menaiki Angel, dan rasanya sungguh menyenangkan.

Angel, seperti yang kamu tahu di dalam Bahasa Inggris artinya adalah malaikat. Dan hal itu memang sangat tepat, sebab Angel adalah gadis yang memiliki wajah seperti malaikat: indah dan seperti tanpa dosa. Kulitnya juga bersih dan mulus, seperti porselein; pipinya sedikit chubby, tetapi tubuhnya langsing seperti peragawati. Lebih dari itu, aku tahu ia adalah gadis yang sangat sopan dan keibuan, tetapi ketika keadaan menghendaki, ia sanggup berubah menjadi sosok yang tangguh dan gesit.

Dimana aku bertemu Angel? Idealnya, lelaki bertemu perempuan di tempat yang indah (taman, pantai, kebun binatang) atau di tempat yang ramai (kampus, kantor, atau chat room Yahoo!), tetapi pertemuanku dengan Angel agak sedikit berbeda. Aku menemukan Angel di bagasi mobilku. Aku menggunakan istilah ‘menemukan’ bukan ‘bertemu’, sebab saat itu Angel memang dalam keadaan yang pasif, seperti sebuah objek, seperti sebuah koin receh yang tanpa sengaja kamu temukan di pinggir jalan. Kecuali tentu saja, ia adalah seorang perempuan cantik.

Jangan pernah tanya mengapa Angel bisa ada di dalam bagasi mobilku, sebab demi Tuhan aku benar-benar tidak tahu. Yang jelas, sewaktu aku pulang dari belanja bulanan di supermarket, aku membuka bagasi mobilku untuk mengambil tas belanjaan, lalu aku menemukan gadis itu, meringkuk di dalam bagasi seperti bayi dalam kandungan.

“Sepertinya aku tidak membeli perempuan di supermarket tadi,” gumamku ketika menemukan Angel.

Kalau kamu, kamu pasti akan menjerit histeris dan kaget setengah mati melihat ada perempuan misterius di dalam bagasi mobilmu. Sebab kamu memang orang yang mudah ditebak dan sangat stereotip, tetapi aku berbeda dengan kamu. Aku tetap santai dan keren.

Angel menatapku dengan kedua bola matanya yang bulat kejingga-jinggaan. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu apakah ia keturunan orang asing atau memang takdir Tuhan yang membuat matanya seperti itu, yang jelas bola matanya itu tampak seperti kelereng yang sering kumainkan ketika masih kecil dulu, dan itu membuatku ingin menyentil mata Angel.

“Au! Sakit!” teriak Angel ketika aku menyentil matanya.

“Kamu pasti maling.”

Angel menggelengkan kepalanya, membuat rambut hitam lurusnya yang panjang sebahu mengayun dengan indah, seperti iklan shampo. Sebenarnya aku berpikir untuk menutup pintu bagasi begitu saja dan membiarkan Angel di dalam sana. Sebab kalau dia ada di dalam bagasi setiap saat, itu bisa jadi hiburan yang cukup menyenangkan. Malah mungkin aku bisa pamer pada teman-temanku.

Tapi ia menahan tanganku. Pada saat itulah pertama kalinya kulit kami bersentuhan. Aku dapat merasakan ujung jemarinya yang halus, bergesekan dengan pergelangan tanganku. Seperti ada sengatan listrik kecil dari ujung jarinya yang merambat di urat nadiku, menjalar hingga ke jantung, membuat jantungku berdetak lebih kencang.

“Namaku Angel. Aku ada di sini karena aku ingin bertemu denganmu,” ucap Angel sambil mengeluarkan kedua kakinya dari bagasi. Ia mengenakan baju terusan pendek selutut saat itu, jadi ia harus menutupi bagian bawahnya agar tidak kelihatan.

“Kalau teori generatio spontanea itu benar, mungkin kamu adalah makhluk yang tercipta dari tumpukan barang belanjaan di dalam bagasi. Dan makhluk semacam itu kemungkinan adalah makhluk yang boros dan materialistis. Tetaplah berada di tempat kamu berasal.”

Angel kembali menggeleng, lalu ia memaksa keluar dari bagasi meskipun aku sudah menahannya. Setelah beberapa menit saling dorong-mendorong, akhirnya aku menyerah. Aku membiarkan ia keluar dengan syarat harus membawakan tas-tas belanjaku.

Setelah meletakkan tas-tas belanja di salah satu sudut rumah, dia pun langsung duduk di kursi ruang tamu. Aku duduk di hadapannya, menatapnya yang menunduk malu, seperti ingin mengucapkan sesuatu yang ditahannya sejak tadi.

“Aku datang ke sini untuk mempersembahkan diriku padamu.”

“Mempersembahkan diri?”

“Iya, karena kamu sudah menolongku, maka aku harus membalas jasa. Aku adalah milikmu sekarang,” jawab Angel sambil memberikan senyum terindahnya padaku: bibirnya yang tipis dan tampak agak basah itu terbuka sedikit, membuat celah kecil yang cukup untuk dimasuki sedotan.

Kalau kamu yang dihadapkan pada situasi itu, aku tahu kamu pasti akan langsung membopong Angel ke tempat tidur dan menidurinya, karena aku tahu kamu adalah lelaki mesum, atau setidaknya, perempuan lesbi yang juga mesum. Tapi aku berbeda denganmu. Aku berusaha mengingat-ingat. Pertolongan apa yang pernah kuberikan kepada gadis ini?

“Tadi pagi, sewaktu kamu sedang berangkat ke supermarket, ingatkah kamu ada sebuah mobil angkot yang sedang mogok di pinggir jalan?” ucap Angel.

Mataku mendadak melotot. Saat itu, rasanya duniaku terasa aneh. Aku ingat, saat berangkat ke supermarket, aku memang menemukan sebuah mobil angkot yang mogok di pinggir jalan. Karena kasihan melihat supir angkot yang ditinggal penumpangnya, maka aku pun memutuskan untuk memberi pertolongan. Kebetulan aku adalah seorang ahli mesin, jadi membetulkan angkot yang mogok adalah hal sepele.

“Rupanya…kamu adalah jelmaan…dari supir angkot tadi yang ingin membalas jasa?” di dalam benakku terbayang wajah sang supir angkot. Bapak-bapak berkumis dan berperut buncit yang tersenyum bahagia saat aku membetulkan angkotnya. Sudah kuduga ada sesuatu di balik senyum lelaki itu. “Bapak tidak perlu mengoperasi kelamin hanya untuk membalas jasa. Aku ikhlas, Pak.”

Angel kembali menggeleng, matanya terpejam dengan kuat dan ia menggigit bibirnya sendiri. “Bukan! Aku bukan jelmaan supir angkot! Itu benar-benar konyol dan tidak masuk akal!” bantahnya.

“Lalu?”

“Aku… adalah… jelmaan dari angkot itu sendiri.”

Mendengar penjelasan itu, aku menghembuskan nafas lega. Membayangkan supir angkot yang berganti kelamin dan meyerahkan dirinya padaku adalah hal yang sangat mengerikan. Untunglah Angel merupakan jelmaan angkot, dan bukan jelmaan supir angkot.

“Baiklah Angel, atau mungkin lebih tepat kalau kusebut Angjel alias Angkot Jelmaan. Apa yang membuatmu berpikir kalau kamu pantas menjadi milikku? Aku memang lelaki bujangan, tetapi bukan berarti aku akan menerima perempuan mana saja yang menyerahkan diri padaku. Maaf saja, aku tidak menginginkanmu.”

Mendengar penolakan tersebut, mata Angel berkaca-kaca. Bibirnya yang tipis berubah keriting lalu bergelombang seperti ombak, sepertinya ia akan menangis. Aku memang bukan lelaki sensitif, aku tidak peduli kalau ada perempuan yang menangis di hadapanku, tapi aku sungguh tidak tega bila ada sebuah angkot yang menangis karena merasa dirinya ditolak. Akhirnya aku pun mendekap kepalanya, membiarkan air matanya mengalir jatuh ke dalam pelukanku. Selama beberapa menit kami terdiam, hanya suara derik kipas angin di atap sana yang mengisi pendengaran kami. Entah apakah ia bisa mendengar suara detak jantungku atau tidak.

“Ada yang ingin aku tunjukkan,” ucap Angel sambil berjalan menjauh, ia memberi isyarat dengan tangan agar aku mengikutinya.

Aku mengikuti Angel sampai ke garasi rumahku. Pintu garasi sudah ditutup, dan mobilku sudah diparkir dengan sempurna. Angel berdiri di tempat yang agak lapang, lalu dengan gerakan perlahan ia menurunkan tali pakaian yang ada di kedua pundaknya. Samar-samar terdengar suara kain yang bergesekan dengan kulit, lalu bajunya jatuh ke lantai, meninggalkan tubuh Angel tanpa sehelai benang pun.

Dan pada saat itulah, mata Angel yang berwarna jingga berubah membesar. Keluar cahaya terang dari kedua bola matanya, sementara tangan dan kakinya menggulung menjadi lingkaran. Aku terperangah melihat kejadian tersebut. Tubuh Angel mengalami distorsi…tidak, lebih tepatnya transformasi. Punggungnya tiba-tiba saja menggelembung menjadi sangat besar, sepintas mirip kura-kura raksasa. Tapi bagian itu berubah menjadi lebih kotak dan menumbuhkan kaca-kaca bening di kedua sisinya. Telinga Angel tertarik ke samping dan menjadi lebih persegi, sementara kedua matanya turun ke bawah, hampir menyentuh lantai. Angel merangkak dan mengerang, lalu cahaya di kedua matanya berkedip-kedip.

“Angel?” aku memanggil namanya, sekadar memastikan apakah ia memang benar-benar orang yang sama.

“Sebagai balas jasa karena telah menolongku, kamu boleh menaiki aku sekarang,” erangnya lembut.

Dan Saudara-Saudari, seperti yang aku katakan sebelumnya di awal kisah, kini aku sedang menaiki Angel, dan rasanya sungguh menyenangkan. Mengapa menyenangkan? Sebab berbeda dengan mobil yang biasa kukendarai, Angel dapat bergerak secara otomatis, sebab dia memiliki kesadaran. Aku hanya perlu duduk santai tanpa harus susah-susah mengemudi, namun sekali-sekali masih suka juga memegang roda kemudinya untuk sekedar hiburan saja. Angel paling suka kalau aku menekan klaksonnya, ia biasanya akan langsung menjerit. Geli, katanya.

Satu bulan sudah berlalu sejak pertama kali aku menemukan Angel. Benih-benih cinta di hatiku sudah tumbuh semakin subur. Angel telah mengubah diriku dari seorang lelaki kesepian yang cuek menjadi lelaki perasa yang penuh cinta. Aku tahu bahwa perbedaan di antara kami bagaikan langit dan bumi, bahkan teman-teman kantorku sering mengejekku ketika aku pergi kerja sambil menaiki Angel. Aku tidak peduli, meskipun Angel hanya seorang angkot, tetapi bagiku dia sungguh luar biasa.

Setiap kali aku sedang menaiki Angel, seringkali ada orang-orang yang menyuruhku berhenti karena ingin ikut menaiki Angel. Mungkin memang wajar, sebab bagaimanapun Angel adalah seorang angkot. Tapi berkali-kali kutegaskan kepadanya bahwa meskipun ia adalah angkot, aku tak mau membagi dirinya dengan penumpang manapun. Hanya aku saja yang boleh masuk ke dalam dirinya, tidak yang lain.

Sekarang adalah hari libur, jadi aku membawa Angel jalan-jalan keliling kota. Aku juga menraktirnya minum di pom bensin terdekat hingga ia puas, bensin Pertamax pun tak segan-segan kubelikan untuknya. Kamu mungkin bertanya-tanya apakah Angel masih bisa berubah wujud menjadi manusia atau tidak. Jawabannya sudah tidak bisa. Menurutnya, ia hanya bisa berubah wujud menjadi manusia satu kali saja, sebab memang begitulah yang namanya keajaiban, tak bisa terjadi berulang-ulang. Tapi bagiku itu tidak masalah, sebab aku tidak pernah menilai perempuan dari penampilan fisiknya semata.

Ketika ia sedang asik meminum bensin (dan aku meminum air putih) tiba-tiba saja suara teriakan lelaki terdengar di belakang kami. Aku menoleh dan melihat ada seorang bapak-bapak sedang menunjuk ke arahku. Bapak-bapak itu mengendarai sepeda motor dan menatap kami tanpa berkedip. Tiba-tiba saja tubuh Angel bergetar hebat, ia seperti ketakutan menyadari keberadaan lelaki itu.

“Gawat! Dia menemukan kita!” ucap Angel berbisik.

Aku sadar, lelaki itu adalah supir angkot yang dulu menjadi pemilik Angel. Lelaki tua berkumis dan berperut buncit yang dulu pernah kutolong. Angel pernah bercerita padaku bahwa lelaki itu adalah orang yang kasar. Ia selalu menaiki Angel setiap hari namun tidak benar-benar rajin merawatnya. Itulah kenapa di tangan lelaki itu Angel jadi sakit-sakitan, dan itu juga alasan yang mempertemukan aku dengan Angel di pinggir jalan dulu. Aku tahu dari sudut pandang lelaki itu, aku mungkin terlihat seperti telah mencuri Angel darinya, padahal kenyataannya justru sebaliknya, justru Angel yang memilihku.

Sepeda motor lelaki itu meraung-raung kencang, sementara ia berteriak dan menyumpahiku dengan berbagai kata kasar. Tak sampai semenit kemudian, aku dan Angel langsung terlibat kejar-kejaran seru dengan lelaki itu. Angel membawaku melaju kencang di jalanan kota dengan kecepatan yang tak pernah kusaksikan sebelumnya. Aku tidak pernah melihat Angel seperti ini, ia berubah dari sosok yang lembut menjadi sosok yang tangguh. Sementara itu, sang lelaki tua bergerak gesit di belakang sana, matanya menyorotkan hawa kebencian.

Sebuah tikungan tajam menghadang kami di depan. Jantungku berdetak kencang. Bukan karena aku tak percaya pada Angel, tapi bagaimanapun juga tikungan itu terlalu sulit untuk dilewati dalam kecepatan tinggi.

“Angel, kamu yakin?” ucapku sambil menahan nafas.

“Jangan khawatir, Sayang!”

Ban Angel berdecit nyaring saat kami melakukan belokan tajam, drifting, seperti di film Too Fast Too Furious. Bagian belakang tubuh Angel sempat menyenggol tukang becak yang sedang mangkal di pinggir jalan, namun kami tidak peduli. Adrenalinku melonjak tinggi merasakan aksi menegangkan Angel. Sementara itu, di belakang kami sang mantan supir angkot tak mau kalah. Ia melewati tikungan itu layaknya Valentino Rossi di sirkuit balap, sepeda motornya miring hingga lututnya nyaris menyentuh aspal, dan ia berhasil melewati tikungan itu dengan perkasa.

“Bagaimana ini? Dia akan segera menyusul kita,” ujarku agak panik. Memang kecepatan Angel lebih tinggi dari kecepatan sepeda motor, tetapi keadaan jalan yang semakin padat membuat Angel tak dapat mengeluarkan kecepatan penuhnya. Sebaliknya, sang mantan supir angkot bisa bebas bermanuver di belakang sana karena ia mengendarai sepeda motor.

“Tidak ada jalan lain!” ucap Angel. “Aku terpaksa harus mengeluarkan senjata rahasia!”

Aku tidak ingin bertanya apa yang ia maksud dengan senjata rahasia, sebab yang namanya rahasia memang dimaksudkan untuk tidak diketahui orang lain. Namun beberapa detik kemudian, aku sadar apa yang Angel maksud. Dua buah misil muncul dari sebelah knalpot Angel, lalu sepasang peluru besar itu melesat dengan kecepatan penuh ke arah mantan supir angkot.

BUM!

Ledakan besar terdengar di belakang kami. Berhasilkah? Apakah tembakan tadi berhasil menghancurkan lelaki tua sialan itu? Lewat spion Angel, aku menanti kepastian itu datang. Namun tak lama kemudian harapanku pupus. Sang mantan supir angkot itu terlihat muncul dari balik kobaran api. Jaket kulit yang ia kenakan tampak terbakar dan hangus sebagian, namun itu justru membuatnya semakin menyeramkan. Ia terus melaju di atas sepeda motornya, berusaha menangkap kami.

“Tidak! Aku lupa kalau dia pernah menjadi pemain debus!” geram Angel.

Jalanan semakin padat. Mau tidak mau Angel harus melakukan manuver lain, ia berjalan miring di trotoar, kemudian melompat tinggi melewati jembatan penyebrangan. Namun semua itu seperti tak ada gunanya, sebab sebuah kemacetan total menghadang di hadapan kami.

Angel berhenti. Ia tak sanggup lagi melanjutkan pelarian. Lautan kendaraan di hadapan kami sama sekali tak mau memberi jalan, mereka tak mau tahu masalah seperti apa yang sedang kami hadapi. Mantan supir angkot berhasil menyusul, ia menghentikan sepeda motornya di sebelah kami.

“Aku akan menghadapinya. Kamu tunggu saja di sini,” bisikku pada Angel.

“Jangan…! Dia sangat berbahaya!”

“Pertarungan antara dua insan ini adalah takdir yang tak dapat dielakkan.”

Perlahan-lahan aku membuka pintu Angel dan melangkahkan kakiku di atas aspal. Suara dengungan kendaraan di sekelilingku menciptakan sebuah alunan melodi yang menciutkan nyali. Sang mantan supir angkot menatapku dan mengepalkan tangannya, sementara para pengemudi mobil di sekitar kami yang tengah jenuh dengan kemacetan segera membuka kaca jendela dan menjadikan kami sebagai objek tontonan.

Mantan supir angkot mengarahkan telunjuknya ke wajahku dan berkata dengan suara beratnya, “Kau! Kau telah mencuri angkotku! Bedebah!”

“Aku tidak mencurinya! Dia yang datang kepadaku. Tahu kenapa? Itu karena ia lebih mencintaiku!” balasku dengan tidak kalah lantang.

Sinar matahari dan asap polusi kendaraan membuat dadaku sesak. Para penonton bergumam sendiri-sendiri, mendiskusikan apa yang mereka lihat.

“Omong kosong! Dia adalah milikku!” ucap mantan supir angkot sambil menarik kerah bajuku.

“Aku…aku mencintainya. Dan dia juga mencintaiku,” ucapku lirih.

Ia menatap mataku dalam-dalam, lalu meludahi wajahku. Kemudian ia menoleh ke arah Angel, seolah dengan tatapan matanya saja ia bisa menaklukkan Angel.

“Itu benar!” teriak Angel, “aku mencintainya dan dia mencintaiku.”

Suara penonton semakin ramai bergumam. Mungkin mereka tersentuh dengan ucapan Angel. Sang mantan supir angkot mendorong tubuhku hingga aku terjatuh ke atas aspal yang panas.

“Omong kosong! Manusia dan angkot tidak mungkin bersatu! Cinta kalian adalah cinta terlarang!” teriaknya lantang.

Para penonton tiba-tiba saja semakin riuh, terjadi perdebatan di antara mereka yang dapat kudengar samar-samar. Keributan itu semakin menjadi hingga salah seorang di antara pengemudi mobil keluar dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“Benar! Manusia dan angkot tidak boleh bersatu! Itu adalah penghinaan terhadap hukum Tuhan!”

“Benar! Kita harus menghentikannya!”

“Ini adalah penyimpangan!”

“Rajam! Rajam!” suara itu sahut-menyahut di sekeliling kami. Sang mantan supir angkot tertawa puas melihat dirinya mendapat dukungan penonton, sementara aku dan Angel semakin tersudutkan.

Entah dari mana, para pengemudi mobil itu memiliki tumpukan batu kerikil di hadapan mereka. Mereka mengambil batu itu dan melemparkannya ke arah kami. Secara bersamaan puluhan batu dilemparkan, tak ada celah untuk menghindar. Kaca-kaca jendela Angel pecah dan tubuhnya penyok. Sementara itu keningku berdarah terkena timpukan batu. Namun yang lebih sakit bukan tubuhku, tetapi hatiku.

Aku hanya bisa memeluk Angel dan berusaha melindunginya. Kalau semua ini harus berakhir, maka aku akan berakhir bersama dengannya. Namun takdir berkata lain. Tiba-tiba saja helikopter polisi datang di atas sana, para pengemudi mobil yang tadi melempari kami sekarang mulai terlihat panik. Sebuah suara terdengar dari atas sana, suara seorang polisi menggunakan pengeras suara menyuruh para pengemudi untuk kembali masuk ke dalam mobil masing-masing, kalau tidak mereka akan ditembak oleh sniper.

Aku, Angel, dan mantan supir angkot dibawa ke pengadilan. Ini bukan proses yang mudah, sebab tak banyak pengacara yang mau membelaku dan Angel. Sementara tuduhan kepadaku cukup jelas: curanmor; pembelaanku dan Angel hanyalah cinta. Akankah cinta berhasil memenangkan keadilan?

Ya, kami tidak punya pilihan lain. Pengadilan memutuskan bahwa aku harus membayar ganti rugi. Biarlah. Semua uang yang kumiliki akan kuberikan bila itu bisa membuatku terus bersama Angel. Tapi bahkan semua itu tak juga cukup. Hukum di negara kami tak mengakui pernikahan antara manusia dan angkot. Mau tidak mau, aku harus membuat keputusan yang ekstrim, yang akan mengubah jalan hidupku untuk selama-lamanya.

“Kamu yakin?” tanya Angel.

“Aku yakin. Ini adalah jalan satu-satunya jalan agar aku bisa bersamamu,” jawabku dengan yakin, sesaat sebelum aku dibawa ke ruang operasi.

Aku tidak tahu apakah kamu pernah masuk ke ruang operasi atau tidak. Tapi ruang operasi yang aku masuki ini jauh lebih canggih dari apapun yang pernah kamu lihat. Di sini aku ditidurkan di atas meja operasi, dan di sekelilingku berbagai jarum, pisau, dan mesin-mesin berdengung seolah siap menyantapku. Di atas meja ini, mereka memodifikasi tubuhku. Mereka mengganti tangan dan kakiku dengan ban karet, juga mengganti kedua mataku dengan lampu kaca, dan tentu saja aku merasa senang karena sekarang aku punya klakson.


 ()