~ Sunday, June 19 ~
Permalink

Sekilas Tentang Otomatisme

Otomatisme Dalam Surealisme

Otomatisme atau automatism adalah istilah yang digunakan dalam berbagai bidang, namun pada umumnya berkutat pada usaha menghilangkan pengaruh kesadaran manusia dalam mengerjakan sesuatu. Misalnya, dalam mediumistic automatism—atau dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan secara bebas sebagai otomatisme cenayang, peran kesadaran manusia digantikan oleh kekuatan roh atau makhluk halus. Dalam praktek tersebut, tubuh manusia hanya dijadikan sebagai medium atau perantara bagi makhluk lain.

Di sisi lain, ada jenis otomatisme yang dikenal dalam kelompok surealis. Otomatisme surealis atau Surrealist Automatism ini mungkin sekilas tampak serupa dengan otomatisme cenayang, namun dari segi pemikiran sangatlah berbeda. Otomatisme surealis memandang otomatisme tidak melalui kacamata mistis, tetapi menggunakan landasan teori psikologi, terutama psikoanalisis yang dipelopori Sigmund Freud. Para surealis percaya bahwa alam bawah sadar manusia menawarkan suatu pendekatan yang lebih baik terhadap kebenaran dibandingkan alam sadar dan rasionalitas. Dengan otomatisme, para surealis mencoba meminimalisir pengaruh kesadaran pikiran dan membiarkan alam bawah sadarnya bekerja. Dalam First Manifesto of Surrealism, Andre Breton menuliskan definisi surealisme sebagai “Psychic automatism in its pure state, by which one proposes to express—verbally, by means of written word, or in any other manner—the actual functioning of thought. Dictated by though. in the absence of any control exercised by reason, exempt from any aesthetic or moral concern.”

Selain itu, Breton juga banyak menulis dalam Le Message Automatique yang berisi essay dan tulisan otomatis.

Dalam berkarya, para seniman surealis mengembangkan berbagai metode untuk bisa menjelajahi alam bawah sadar. Sebagian ada yang menganggap otomatisme sebagai proses awal atau sketsa dalam pembuatan karya, sementara ada pula yang menjadikannya sebagai sebuah karya utuh. Salvador Dali adalah salah satu seniman yang menjadikan otomatisme sebagai proses awal, selebihnya ia mengembangkan metode yang dikenal sebagai paranoiac-critical method. Metode tersebut memanfaatkan kecenderungan pikiran manusia untuk menghubung-hubungkan berbagai hal yang secara rasional sebenarnya tak saling berhubungan. Hasil yang ia dapati seringkali berupa gambar objek-objek ambigu dan mengandung ilusi optik.

Dream Caused by the Flight of a Bumblebee around a Pomegranate a Second Before Awakening, 1944 Salvador Dali 

Secara umum, metode otomatisme biasanya diterapkan pada gambar (automatic drawing) dan tulisan (automatic writing).

Automatic drawing atau gambar otomatis adalah gambar (drawing) yang dibuat tanpa tuntunan pikiran sadar yang rasional atau perencanaan-perencanaan tertentu. Orang yang membuat gambar otomatis akan menekan pikiran sadarnya dengan jalan berusaha mengosongkan atau mengalihkan pikiran yang muncul di dalam benaknya, sementara itu membiarkan tangannya bergerak dan membuat gambar acak. Menurut Joel Biroco, seorang seniman dan esoteris, dalam situsnya http://www.biroco.com, gambar otomatis merupakan antitesis dari gambar ilustrasi, sebab orang yang menggambarnya tidak pernah tahu apa yang akan ia gambar. Meskipun mungkin saja gambar yang dihasilkannya akan dihubung-hubungkan dengan suatu objek oleh pengamat, namun proses pembuatan gambar tersebut sangat menghindari usaha melakukan representasi. Ia juga mengaitkan gambar otomatisme dengan wu wei, sebuah konsep dalam Tao mengenai pengosongan pikiran dan tindakan yang apa adanya.

    Automatic drawing Biroco

Automatic drawing Andre Masson

Gambar otomatis selain digunakan sebagai salah satu metode dalam seni surealisme juga seringkali digunakan dalam terapi kejiwaan. Catherine Jo Morgan dalam Art For Energy[1] menulis bahwa gambar otomatis layaknya yoga bagi seniman, yaitu merupakan kunci dalam pemusatan, pemenuhan, dan fleksibilitas diri. Seperti halnya yoga, gambar otomatis bersifat menenangkan dan membebaskan.


[1] http://www.cjmorgan.com/automatic-drawing/automatic-drawing.htm

   Otomatisme dan Spiritualitas

Seperti yang telah dituliskan pada bagian sebelumnya, otomatisme memiliki beragam makna, dan di antaranya memiliki keterkaitan erat dengan spiritualisme. Meskipun pada kenyataannya otomatisme surealis dilandasi oleh psikoanalisis, dan para psikoanalis (termasuk Freud) pada umumnya bukanlah seorang spiritualis[1], namun teori-teorinya seringkali mendapat penafsiran khusus dari kacamata spiritualisme. Seperti halnya dua sisi pada satu koin, orang-orang beragama dan kaum spiritualis seringkali menganggap bahwa pendekatan sains dan psikologi yang sekuler dapat memberikan sumbangsih terhadap pemahaman spiritual, meskipun memiliki sudut pandang yang berbeda.

Salah satu orang yang menafsirkan kembali psikoanalisis dari sudut pandang spiritualisme adalah Rudolf Steiner (1861-1925), seorang ahli psikoterapi yang mengembangkan pemikiran piskologi spiritual. Dalam bukunya Freud, Jung and Spiritual Psychology (1921), ia berpendapat bahwa fenomena yang melandasi terbentuknya psikoanalisis adalah sesuatu yang nyata, namun karena Freud tidak memercayai keberadaan roh (spirit), maka kemungkinan untuk mempelajari aspek spiritual itu menjadi terputus.

Di sisi lain, sebelum mendapat penafsiran materialistis dari Freud, aktivitas otomatisme sudah dipraktekkan sejak lama dalam berbagai agama dan kepercayaan. Aktivitas-aktivitas ini baik diakui atau tidak banyak memengaruhi penemuan psikoanalisis, terutama bagi Jung yang sangat menggemari mistisme.

Buddha aliran Zen adalah salah satu ajaran yang sangat erat dengan otomatisme. Kecenderungan Zen untuk memahami realitas sebagai sesuatu yang kosong, menuntut penggalian lebih dalam terhadap aspek jiwa manusia, misalnya seperti istilah Wajah Asli. Konsep Wajah Asli dalam kepercayaan Zen berasal dari kalimat “Seperti apa wajahmu saat orangtuamu belum dilahirkan?”. Pertanyaan ini bertujuan untuk memancing manusia untuk  memahami kehampaan realita, yaitu dengan cara melihat diri melampaui latar belakang sosio-kulturalnya. Wajah asli ini dapat terlihat ketika seseorang berhasil mengosongkan pikirannya.  Selain itu ucapan-ucapan dari guru Zen juga seringkali berupa ucapan spontan dan otomatis yang mampu memberikan inspirasi bagi murid-muridnya. Bahkan penerapan Zen dalam ilmu bela-diri dan perang sekalipun mengharuskan praktisinya untuk mengenali hakikat keberadaan dirinya sendiri sebelum mampu mengenali lawannya.

Salah satu praktek Zen yang berhubungan dengan seni rupa adalah Ensō. Ensō, sesuai dengan namanya yang dalam Bahasa Jepang berarti lingkaran, merupakan sebuah gambar lingkaran yang dibuat oleh praktisi Zen. Ensō biasanya dibuat menggunakan kuas dalam satu tarikan garis, melambangakan keutuhan dan pencerahan spiritual. Penganut Zen percaya bahwa kepribadian dan sisi kejiwaan seseorang dapat terlihat dari Ensō yang ia gambar.

 


[1] Maksud dari spiritualis adalah orang yang percaya dengan keberadaan spirit atau roh.

 

Meskipun lingkaran Ensō sudah diketahui dan disadari oleh pembuatnya, namun perhatian besar terhadap hal-hal yang muncul karena ketidaksengajaan (bentuk goresan kuas, arah permulaan lingkaran, kesempurnaan lingkaran, cipratan tinta yang tidak disengaja, dll) dalam pembuatan Ensō, sangat mirip dengan bagaimana para surealis memaknai gambar otomatis.

Otomatisme juga memiliki hubungan dengan pembuatan sigil. Sigil yang secara harfiah berarti segel, adalah simbol-simbol abstrak dan semi-abstrak yang digunakan dalam tradisi ilmu sihir. Setiap sigil melambangkan nama sejati[1] dari sesosok malaikat (angel) atau iblis (demon) yang dapat dipanggil oleh sang penyihir. Namun dalam dunia modern, penggunaan dan penciptaan sigil mengalami pergeseran. Austin Osman Spare (1886 – 1996) adalah seorang seniman yang mengembangkan hubungan antara gambar otomatis, tulisan otomatis, dan pembuatan sigil. Sihir yang dipercayai oleh Spare lebih banyak berlandaskan pada kekuatan pikiran bawah sadar daripada hubungan dengan makhluk gaib seperti sihir tradisional. Menurut Spare, gambar otomatis adalah cara ampuh untuk mengungkapkan apa yang ada di sisi belakang pikiran kita. Berbeda dengan penganut otomatisme mediumistik yang percaya bahwa gambar otomatis digerakkan oleh kekuatan di luar diri manusia, Spare beranggapan bahwa untuk membuat gambar otomatis yang baik kita justru membutuhkan banyak latihan, tujuannya adalah untuk memperlancar interaksi antara alam sadar dengan alam bawah sadar. Pembuatan sigil a-la Spare dilakukan pertama-tama dengan menggambar otomatis, lalu diikuti dengan berbagai ritual untuk memusatkan pikiran.

Contoh sigil dengan metode AOS


[1] Dalam berbagai  tradisi sihir dan cerita rakyat di Eropa abad pertengahan dipercaya bahwa setiap benda/makhluk memiliki nama sejati. Bila nama sejati ini diketahui oleh orang lain, maka orang itu bisa mengendalikan dan menguasai si pemilik nama.

 

Selain simbol sigil, pengucapan mantra dalam ritual sihir dan shamanisme juga memiliki kemiripan dengan otomatisme. Ucapan yang keluar secara spontan oleh orang yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural dianggap memiliki pengaruh tertentu. Fenomena kerasukan atau mediumisasi juga dapat diartikan sebagai otomatisme, sebab menghilangkan peran kesadaran manusia. Otomatisme di ranah mistik ini selain berupa tulisan, gambar, dan ucapan juga seringkali menggunakan alat bantu seperti papan ouija dan jelangkung.

Kelompok sufi dalam Islam juga memiliki praktek-praktek yang berhubungan dengan otomatisme. Dalam buku A Psychology of Early Sufi Sama’: Listening And Altered States, Kenneth S. Avery banyak membahas mengenai ragam perilaku kaum sufi yang berhubungan dengan spontanitas dan otomatisme, antara lain adalah berbagai ujaran ekstatik dan bait-bait puisi mengenai cinta ketuhanan. Hal ini tidaklah mengherankan bila mengingat kecenderungan kaum sufi yang selalu berusaha memahami keberadaan Tuhan lewat pemahaman terhadap diri, terutama yang berhubungan dengan mistik dan spiritualitas.

Tags: artikel psikologi seni mistisme
26 notes  ()
  1. adrianelinerush said: doodling klo lagi ngobrol/nerima telepon termasuk ginian bukan? 0,o
  2. namelessorder posted this