~ Tuesday, May 31 ~
Permalink

Jurnal Mimpi: Salah Kiblat

Semalam saya memimpikan hal yang lumayan aneh. Yang saya ingat, ada dua episode mimpi. Saya ceritakan dari yang ke-2 dulu, yang paling diingat.

Di suatu siang, saya sedang berada di Mesjid Salman (ITB), sepertinya sih saat sedang waktu dzuhur. Tapi ketika saya melangkahkan kaki dari tempat wudhu ke ruang shalat, saya menemukan sesuatu yang aneh. Orang-orang yang sedang shalat berjamaah melakukan gerakan dan posisi yang tidak biasa. Pertama, mereka (jemaah lelaki) posisi shafnya berada di bagian sangat belakang, mendesak shaf jemaah perempuan, padahal di sebelah depan masih kosong. Kedua, gerakan shalat mereka aneh. Misalnya, saat sedang rukuk atau sujud, mereka memutar tubuh bagian atas mereka (pinggang ke atas) sebanyak 180 derajat ke belakang. Itu kan tidak mungkin terjadi di dunia nyata, tapi dalam mimpi itu, mereka memang bisa memutar pinggang mereka seperti itu.

Dalam mimpi itu, saya merasa heran, tapi saya menduga bahwa gerakan tersebut disebabkan adanya kesalahan kiblat di mesjid tersebut. Akhirnya saya pun ikut shalat, yang jadi imam adalah seorang bapak-bapak berjenggot dan berbaju gamis. Ia juga melakukan gerakan seperti itu. Tapi karena saya merasa tidak nyaman, akhirnya saya berhenti di tengah-tengah (juga karena di antara semua orang, tampaknya cuma saya yang tidak bisa memelintirkan pinggang 180 derajat). Si bapak-bapak yang jadi imam itu pun sepertinya ikut berhenti.

Setelah itu, saya mencari-cari orang yang bisa saya tanyai. Di antara mereka ada dua orang jemaah pria yang sedang mengobrol, dan salah satunya saya kenal. Saya pun menghampiri orang itu dan bertanya, mengapa gerakan shalatnya jadi susah begini?

Lalu orang itu menjawab dengan tenangnya, sebab katanya ada kesalahan arah kiblat di mesjid ini. Ternyata sesuai dugaan saya. Lalu saya kembali bertanya.

“Tapi kan Pak, kalau terjadi hal semacam itu, di masyarakat kita biasanya mereka mengubah arah menghadap atau posisi berdiri, bukan memutar pinggang,” kata saya.

Lalu si orang itu mengangguk-angguk dan hendak menjawab pertanyaan saya. Katanya ada penjelasannya mengapa demikian. Tapi belum sempat ia menjelaskan, tiba-tiba saja….. suara alarm berbunyi, dan saya pun terbangun. Sampai sekarang pun saya tidak tahu alasan absurd apa yang ingin dia sampaikan.

Sebelum mimpi yang itu, saya juga memimpikan hal lain. Mimpi pertama ini temanya berbeda, tapi latarnya tidak terlalu jauh. Alkisah, saya sangat lapar saat berada di kampus. Lalu saya pergi ke kantin arsi untuk membeli sepotong roti rasa keju. Tapi anehnya, tiba-tiba saja persediaan roti di sana menjadi sangat sedikit. Hanya beberapa potong yang tampaknya sisa dari bekas kemarin (sepertinya sudah basi). Saya tanyakan pada orang-orang, tapi semuanya diam. Tentu saya kecewa, sebab saya sangat menginginkan roti keju. 

Saat hendak keluar dari wilayah kantin, saya melihat sosok lelaki mencurigakan di sudut ruangan. Lelaki itu dagunya lancip dan mulutnya lebar, tempat ia berdiri sepertinya minim cahaya, sehingga menambah kesan mencurigakan. Tiba-tiba saja dia menawarkan saya beberapa potong roti. Ternyata ia menyimpan banyak sekali roti. Dan yang lebih mengherankan, roi-roti itu ia jual dengan harga yang murah sekali, yaitu cuma Rp.200 perak. Tapi karena saya curiga, saya pun langsung pergi.

Keesokan harinya saya sering melihat lelaki itu menawarkan roti murah di pojok-pojok kampus, sehingga membuat kantin arsi menjadi bangkrut. Dan entah bagaimana, saya tahu bahwa lelaki itu adalah orang jahat.

Analisis:

Saya coba menghubungkan beberapa simbol dalam kedua mimpi itu dengan kejadian yang saya alami di dunia nyata.

Salman, mesjid, dan shalat —> sebelum tidur saya sempat mengomentari status FB Citta mengenai nama ababil. 

Orang yang menjelaskan soal gerakan shalat —> Wajahnya mirip Affan Banon Dirga, meskipun saya tidak memanggilnya begitu di dalam mimpi. Kemarin saya sempat melihat tulisan dia di feed FB.

Memutar pinggang —> Sebelum tidur, saya memang merasakan pinggang saya agak sakit karena terlalu lama mengetik.

Roti —> karena saya sedang lapar?

Kantin arsi, kosong —> beberapa hari yang lalu saat saya datang ke kantin arsi, saya melihat warung Si Ibu yang sedang tutup, tidak seperti biasanya.

Rp.200 —> harga crepes murah yang pernah saya makan bersama Riezky dan Cus dua hari lalu. Harga crepes itu sebenarnya Rp.2.000, tapi saya menduga ada hubungannya.

Demikianlah analisis yang saya buat mengenai mimpi semalam. Beberapa simbol lain seperti “lelaki mencurigakan yang menawarkan roti” masih belum saya temukan padanannya. 

Tags: dream journal mimpi
 ()