~ Saturday, April 30 ~
Permalink

Tulislah Dengan Tangan

Semenjak kita lebih sering mengirim SMS dan menulis di internet, sudah tak pernah lagi kulihat tulisan tanganmu. Sekarang huruf A yang kau buat tak ada bedanya dengan huruf A yang dibuat semua orang. Kita tak lagi menulis,Sayang, kita hanya menyusun simbol.

Dulu aku menebak perasaanmu lewat lengkung-lengkung di ujung huruf, yang kau tulis di surat cinta. Sekarang kita harus pintar-pintar memanipulasi tanda baca untuk menggambar muka. Tentu ada ribuan font di luar sana, tapi tak ada satupun yang bisa menggantikan tulisan tanganmu. Tak ada satupun yang bisa mendefinisikan dirimu.

Huruf-huruf kita sekarang, yang dingin seperti mayat. Yang hidup tinggal kata-kata tanpa jasad.

Terpujilah kaum alay yang selalu berusaha memberontak pada kekangan huruf-huruf cetak.

Sekali lagi, aku ingin lihat bagaimana gemetar tanganmu membentuk huruf “i” yang berbeda. Yang hanya milikmu. Yang tak pernah tercantum di daftar ASCII.

Marilah, Sayang. Singkirkan papan ketik itu. Ambil pena dan tulislah seperti dulu. Pada kertas yang wangi. Dengan taburan kelopak mawar. Atau mungkin tetesan air mata, yang membasahinya tanpa sengaja.


 ()