Uang Itu Tidak Nyata!

Selepas gajian, Septa mengunjungi Zenal, alangkah kagetnya ia melihat kamar sahabatnya itu penuh dengan tumpukan barang. Ternyata Zenal sudah menghabiskan seluruh gajinya untuk membeli persediaan makanan, minuman ringan, dan baju baru selama sebulan.

"Gila lu, Zen! Gaji lu langsung lu habisin semua? Nabung, dong, nabung! Lu nggak khawatir dengan masa depan lu kalo lu nggak punya tabungan sepeser¬†pun?”¬†

"Buat apa nabung? Apa lo nggak merasa heran, kok bisa-bisanya sih lo merasa ‘aman’ dengan menyimpan lembaran kertas dan angka-angka abstrak di dalam buku?" ujar Zenal santai.

"Ya jelas lah, itu kan bukan sekadar kertas dan angka, itu semua uang!" Septa menjerit kesal.

"Oke, sekarang lo punya uang tiga juta di dompet dan rekening bank lo, sementara gue punya persediaan makanan, minuman, dan pakaian selama sebulan," ucap Zenal sambil menunjuk hidung Septa. "Kalau sekarang kita terjebak di pulau terpencil tanpa penghuni, antara lo dan gue, siapa yang bakal mati lebih dulu?"

Septa terdiam selama beberapa saat, kemudian menghela napas. “Tapi kan kita sekarang ada di tengah ko ….”

"Udah lah, nggak usah ikut campur, gue cuma nggak percaya dengan nilai lembaran kertas ajaib yang dikasih tanda tangan Gubernur BI itu! Gue lebih percaya benda yang nyata! Yang real! Bisa dimakan, ada nilai gunanya!" ucap Zenal bangga sambil menunjuk-nunjuk kardus belanjaannya.

"Alah, sok idealis lu, bilang aja lu lapar mata waktu jalan lewat supermarket tadi kan?" ucap Septa yang langsung dibalas Zenal dengan picingan mata.

Aku terbang menembus batas langit, lalu aku tiba di laut.

twitter.com/rivaimuhamad

view archive



Cerpen

Puisi

About Me

Ask me anything