~ Friday, January 27 ~
Permalink

Tujuh AC dan Biaya Kuliah

Ada seorang bapak-bapak yang sering saya temui ketika jam istirahat kerja. Meskipun umurnya sudah tua dan sudah lama bekerja, tapi ia cuma karyawan biasa. Ia selalu tertawa dan tersenyum menghampiri siapa saja yang ia temui di warung kopi. Saya tidak menanyakan namanya, atau mungkin saya pernah bertanya tapi sudah lupa. Dia bukan bapak yang dipanggil “Bapak” oleh seorang ajudan, ia hanya seorang bapak yang dipanggil “Bapak” oleh orang yang tidak mengetahui namanya—dan oleh anak-anak kandungnya sendiri.

Pada suatu siang, saya sempat mengobrol dengannya. Ia bercerita tentang kebingungannya karena harus membiayai biaya sekolah dan kuliah anak-anaknya (salah satu anaknya baru lulus SMA). Saya tahu dia pusing, dia gelisah, dan dia lelah. Tapi dia bukan contoh yang unik. Dia hanyalah satu dari sekian juta orang (dan masih banyak yang lebih malang darinya). Tentu saya sadar, orangtua saya pun tidak jauh berbeda dengannya. Juga orangtua kalian. Atau setidaknya, sebagian dari kalian.

Di matanya yang berkaca-kaca, ada rasa iri. Terutama ketika beberapa orang karyawan yang umurnya lebih muda dengan jabatan yang lebih tinggi datang dan duduk di dekatnya. Lalu salah seorang di antaranya mengeluh bahwa ia sedang pusing karena harus membayar tagihan listrik di rumahnya yang berjuta-juta rupiah, sebab di rumahnya yang besar itu ada tujuh buah AC yang memakan tenaga listrik besar. Karyawan berdasi itu memang memiliki bahasa tubuh yang penuh percaya diri. Rambutnya disisir rapi mengkilat (meskipun culun) dan sepatunya bagus. Saya tidak tahu persis siapa dia dan apa jabatannya, tapi saya pernah beberapa kali melihatnya keluar kantor mengendarai mobil sedan. Si bapak tadi tertawa terpingkal-pingkal mengolok keborosan si karyawan berdasi itu. Katanya, untuk apa rumah besar dan tujuh buah AC? Tujuh! Tujuh! Ia terpesona dengan angka itu. Ia terus tertawa. Sesekali ia melihat ke arah saya, seperti ingin mengajak tertawa juga sambil mengulang kata-kata tadi. Tapi bagaimana mungkin saya bisa ikut tertawa kalau saya tahu bahwa tawa yang ingin ia tularkan itu bukanlah tawa bahagia?

Di matanya ada rasa iri. Itu jelas terlihat, meskipun ia tertawa dan menggoyang-goyangkan kepalanya, menepuk-nepuk pahanya, dan terus tertawa sampai durasi tawanya terasa kurang wajar bagi orang yang mendengar. Apakah yang begitu lucu?

Kalau benar di hatinya ada perasaan iri, apakah rasa itu wajar? Dosakah ia karena iri melihat orang yang menghamburkan uangnya sementara ia punya banyak kebutuhan hidup yang belum terpenuhi? Atau mungkin saya yang salah. Mungkin ia sama sekali tidak merasa iri. Mungkin, yang ia tertawakan saat itu bukan kemalangannya, tapi ironi tentang dua orang yang sama-sama pusing. Ia pusing karena tidak punya uang untuk membiayai pendidikan anaknya, sementara yang satu pusing karena harus membayar tagihan listrik tujuh buah AC. Yang satu uangnya sedikit tetapi pusing, yang satu lagi uangnya lebih banyak tetapi juga pusing. Lantas, kalau sama-sama pusing, apa bedanya?

Bedanya tentu saja karyawan berdasi tadi bisa menjual tujuh buah AC-nya dan menggantinya dengan kipas angin yang lebih irit, lalu menggunakan kelebihan uangnya untuk hal-hal lain. Tapi apa yang bisa dilakukan bapak tadi selain tertawa? Mungkin ia bisa mencari penghasilan tambahan, mengabdikan waktu istirahatnya yang sedikit untuk mencari kelebihan uang, memaksa tulang-tulangnya yang rapuh untuk lebih keras bekerja. Atau ia bisa membujuk anaknya untuk tidak usah kuliah, bekerja saja seperti dirinya, dan pada akhirnya merasakan pusing yang sama.

Atau ia bisa bertanya kepada kita, apa yang akan kita lakukan bila suatu saat berada di posisinya? Bila suatu saat berada di posisi yang sama seperti ayah-ayah kita, atau bahkan di posisi yang lebih buruk?

Tags: pengalaman
3 notes  ()
  1. adrianeline reblogged this from namelessorder
  2. namelessorder posted this