Tentang Sebuah Grup di Facebook
Awal dia mengajak saya bergabung di grup Facebook-nya, dia adalah orang yang objektif, kritis, dan tidak mudah terhasut. Dia adalah seorang ekspatriat yang tinggal di Indonesia dan tampak begitu tertarik untuk mencari titik temu perdamaian antara agama-agama di dunia, terutama agama Islam, Kristen, dan Yahudi (kebetulan saat itu memang sedang ramai masalah konflik agama dan isu-isu terorisme yang mengatasnamakan Islam). Melihat komentar saya di salah satu forum, dia bilang dia tertarik untuk mengajak saya bergabung dengan grup diskusinya, karena menurutnya saya memiliki cara pandang yang moderat. Menurutnya, dengan mengumpulkan orang-orang berpikiran moderat dan toleran dari berbagai agama, kita akan bisa berdiskusi dengan kepala dingin dan mencari solusi untuk mendamaikan ketiga pemeluk agama tadi, yang tentunya tidak mungkin ia lakukan bersama orang-orang ekstrimis.
Bagi saya itu adalah sebuah kehormatan. Meskipun pengetahuan saya tentang agama hanya ala kadarnya saja, dan saya harus ekstra hati-hati ketika memberi komentar di grup itu agar tidak memberikan informasi keliru, namun saya sangat menghargai niat baik orang itu. Di dalam grup itu berkumpul banyak orang dari berbagai agama. Ada orang-orang Kristen, Jehovah Witness, Muslim Sunni & Syiah, Yahudi, dan lain-lain. Biasanya dia akan melemparkan satu topik yang berkenaan dengan masalah konflik agama, lalu orang-orang akan mengomentarinya sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan mereka masing-masing. Terkadang ada juga komentator yang “agak sensitif” atau kelewat “militan” sehingga membuat panas suasana. Kalau itu terjadi, biasanya dia atau komentator lain akan berusaha mendinginkannya kembali. Grup itu memang diibaratkan sebagai “kedai kopi”, bukan “panggung debat”.
Beberapa waktu setelah bergabung dalam grup itu, saya mengalami perubahan pola kesibukan. Akibatnya, saya tidak sempat mengunjungi grup itu berbulan-bulan lamanya. Hingga beberapa minggu lalu, iseng-iseng saya mengunjunginya lagi. Saya agak terkejut ketika membaca tulisan-tulisan orang itu sekarang. Dia tidak lagi objektif dan penuh keingintahuan seperti dulu, sekarang postingan yang ia buat hampir seluruhnya berusaha menyudutkan Islam dan terkesan sedang “marah”. Argumen yang ia pakai berasal dari buku dan situs-situs Islamophobic yang saya pikir sudah lama dia kesampingkan saat memulai grup itu dulu. Saya pikir, mungkin saat itu ia sedang ada masalah. Tapi beberapa minggu kemudian, postingannya masih tetap senada. Ada apa dengannya? Kenapa sekarang ia menjadi mirip dengan orang-orang Faithfreedom yang serba bias itu, yang sudah sepantasnya dikesampingkan dari tiap diskusi lintas agama yang menginginkan perdamaian dan toleransi? Komentar-komentar yang menyertainya pun tak jauh berbeda, malah terkesan homogen, tidak ada lagi diskusi yang sehat dan penuh rasa saling menghormati. Saya kecewa dan sekaligus penasaran, mungkin sesuatu yang luar biasa pernah terjadi di dalam grup itu, yang membuatnya kehilangan visi dan misi yang dulu sempat saya kagumi itu.
()

button
