~ Wednesday, January 4 ~
Permalink

Toilet



Pasti banyak yang setuju kalau saya bilang bahwa banyak keputusan-keputusan penting dalam hidup kita yang dibuat di toilet atau kamar mandi. Fungsi toilet sebagai ruang perenungan (selain sebagai tempat buang air) mungkin sudah disadari oleh manusia sejak berabad-abad lalu (?), sejak manusia berakal pertama kali menyadari bahwa rawa dan semak-semak sudah tidak nyaman lagi untuk dijadikan tempat buang air.

Kegiatan buang air umumnya merupakan sebuah kegiatan yang sangat personal. Ketika buang air, Anda terisolasi dari dunia luar, dari hiruk pikuk peradaban manusia, dari derasnya arus informasi yang menghantam kepala (kecuali kalau Anda tipe orang yang suka buang air sambil membaca koran), dan dari interupsi kehadiran manusia-manusia lain. Pada saat buang air, Anda menjadi diri sendiri seutuhnya.

Di dalam keheningan dan kesejukan ruangan Anda melamun, karena memang tak ada hal lain yang bisa dilakukan. Saat melamun, ada banyak hal yang terlintas dalam pikiran Anda. Akui saja, hal-hal filosofis seperti makna kehidupan, masa lalu yang terlupakan, serta bagaimana menciptakan dunia yang ideal paling sering melintas dalam pikiran Anda ketika sedang berada di toilet atau kamar mandi. Saat buang air, Anda menjadi sangat idealis.

Saat buang air, Anda seringkali bermeditasi. Saat buang air Anda seringkali mendapat inspirasi. Tidak heran dulu Rieke Diah Pitaloka pernah membuat buku berjudul “Renungan Kloset”.

Bagi saya, ada beberapa kegiatan yang paling sering bisa memunculkan inspirasi. Salah satunya adalah menaiki kendaraan. Berada di dalam mobil yang bergerak statis seringkali membuat saya melamun dan mendapatkan ide-ide brilian, apalagi kalau pemandangan di luar jendela terlihat indah. Selain itu, ide-ide brilian lain seringkali saya dapatkan ketika berada di toilet. Sudah bukan hal yang tabu lagi untuk membuat bait-bait puisi cinta sambil buang air besar. Contohnya adalah puisi singkat yang pernah saya buat beberapa tahun lalu:

Puisi Cinta Pagi-Pagi

1

tiap pagi aku mencipta puisi
untuk wanita, bukan lelaki
yang selalu kubuat terharu
ia tanya: bagaimana mencipta puisi?
kujawab: puisi memilih aku
dan aku memilih kamu
ia tersipu
maka aku dinobatkan sebagai lelaki paling romantis
sejagat raya

tiap pagi di tiap hari aku mencipta puisi
untuk dirinya, yang kucintai
cinta ditukar puisi, dan ia akan berikan apa saja
karena puisi. jiwa raga hati pikiran perhatian hidup mati
ia tanya: darimana sumber insprasi
kujawab: tak perlu tahu
itu rahasia karya seni
ia tersipu
kata-kata di atas kertas bagaikan melodi
meluluhkan hati

2

tiap pagi aku mencipta puisi
puisi cinta bagai pelet
yang dengan sebenar-sebenarnya kubuat
sambil berjongkok di toilet

Maaf kalau tulisan saya kali ini terasa agak jorok, dan maaf kalau Anda jadi bisa menghirup aroma-aroma WC dari layar komputer Anda saat ini. Saya cuma berharap agar biaya perbaikan toilet DPR yang memakan biaya 2 miliar itu bisa membuat para wakil kita dapat merenungkan ide-ide brilian di dalam toilet. Kalau bisa, mungkin sebaiknya gedung DPR itu isinya dibuat toilet semua saja. Bayangkan, seandainya mereka sidang atau rapat sambil buang air besar, ide-ide brilian dan filosofis luar biasa macam apa yang dapat dihasilkan? Bayangkan.

Tags: opini
1 note  ()
  1. namelessorder posted this