Untitled
Saya tidak pernah benar-benar membenci keramaian. Saya suka berada di tengah keramaian, di tengah kumpulan orang yang saling berinteraksi, tapi saya tidak suka—atau tidak terbiasa—menjadi bagian dari keramaian itu. Mungkin saya hanyalah seorang pengamat pasif. Selama ini saya punya kebiasaan untuk pergi seorang diri ke tempat-tempat ramai hanya untuk melihat-lihat dan mendengarkan, mengambil tempat duduk di mana saya bisa bebas memperhatikan sekeliling tanpa harus menjadi pusat perhatian. Lalu pada saat itu biasanya muncullah sebuah rangkaian narasi di dalam kepala, seperti suara narator di sebuah film dengan mata saya sebagai kameranya.
Oh, orang-orang itu, lihatlah. Betapa mereka begitu menarik, menyenangkan, lucu, namun terkadang ironis dan menyedihkan. Mereka begitu unik dan luar biasa.
Banyak orang yang salah memahami hal semacam itu. Saya tidak pernah berniat menarik diri, saya hanya menjaga jarak, dan itu bukan berarti saya tidak memiliki keterikatan emosional dengan orang-orang. Terkadang saya bisa memimpikan, merindukan, tersenyum atau menangis karena sesuatu terjadi pada orang-orang itu. Mereka tidak tahu, dan saya pikir, mereka tidak harus tahu. Saya mencintai mereka, dalam definisi yang mungkin sulit dipahami oleh orang-orang yang memahami cinta sebagai sebuah tindakan fisik, sebagai genggaman tangan, tepukan di bahu, atau bahkan ciuman di kening.
Tapi saya punya kehidupan sendiri yang harus saya jalani, dan saya tidak mungkin menjadi pengamat bagi diri sendiri. Masalah sering muncul ketika saya berada dalam posisi di mana saya harus bertindak, ketika saya harus menjadi aktor, bukan narator. Dialog, aksi, gerak tubuh, ekspresi wajah, emosi, dan terutama kontak fisik dengan manusia lain, semua itu membuat saya sangat canggung. Bagaimana mungkin saya merasa asing dengan kehidupan sendiri? Karena saya begitu pasif? Karena 90% hidup saya berlangsung di dalam kepala? Karena pengecut? Ini mungkin adalah masalah terbesar yang saya miliki sepanjang hidup. Menjadi tokoh utama itu sangat menakutkan. Saya bisa menyakiti, saya bisa disakiti, dan semua itu terjadi di panggung utama yang akan memengaruhi segalanya. Terlebih lagi, sebagai tokoh utama, jarak pandang saya menjadi sangat sempit. Kalau saya jadi aktor, saya pasti adalah aktor yang selalu lupa dialognya sendiri sesaat setelah sutradara berteriak action.
Maafkan tulisan yang menjadi sangat emo ini. Karena ini akhir tahun, saya pikir tak mengapa kalau sekali-sekali membuat tulisan yang sifatnya personal. Ada begitu banyak hiperbola dan pembenaran dari curhatan di atas. Padahal tidak selamanya saya seperti itu. Toh terkadang saat di dalam bus, saya masih bisa berinisiatif mengajak bicara orang yang duduk di sebelah saya. Walaupun, itu sangat tergantung dengan suasana hati.
Lalu, apa yang bisa saya simpulkan dari semua pengamatan itu? Belum ada. Manusia sangat rumit. Tapi tak peduli sekusut apapun kalian, dan seperti apapun kalian memandang saya, saya mencintai kalian, wahai manusia bumi. Kalian tidak harus percaya, dan saya tidak harus membuktikannya.
1 note ()
-
indianathemerman liked this
-
namelessorder posted this

button
