~ Wednesday, December 28 ~
Permalink

Bila Tak Ada Orang Miskin

Pada suatu khutbah Jumat, seorang khatib tengah membahas mengenai keberagaman dalam hidup manusia. Ia berbicara mengenai perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa, perbedaan bentuk fisik, sampai perbedaan keyakinan beragama. Saya tidak merasa terganggu dengan masalah perbedaan keyakinan yang ia sampaikan, saya justru merasa terganggu ketika ia membahas masalah kaya dan miskin. Dalam satu kalimatnya ia mengungkapkan bahwa kaya dan miskin adalah keberagaman dan keseimbangan. Ia mengatakan bahwa orang miskin memiliki kegunaan (saya buat miring karena maknanya bisa jadi bernuansa konotatif) yaitu sebagai penerima sedekah. “Bayangkan kalau tidak ada orang miskin, kepada siapa kita akan bersedekah?” katanya. Dengan demikian, orang-orang miskin dianggap sebagai ladang pahala.

Ya, pernyataan itu ada benarnya, sebab bisa dianggap sebagai suatu usaha untuk mendorong orang-orang agar mau bersedekah. Tapi yang membuat saya bingung adalah cara dia dalam memandang kemiskinan.

Seolah-olah, kemiskinan itu adalah sesuatu yang harus ada. Karena kalau tidak ada orang miskin “kepada siapa kita akan memberikan sedekah?”. Bagi saya itu aneh. Mengapa kita bisa-bisanya memandang penderitaan orang lain sebagai sesuatu yang menguntungkan untuk diri kita? Bagaimana mungkin kita resah membayangkan orang lain menjadi makmur dan sejahtera? Ketika seseorang bersedekah dengan pola pikir seperti itu, apakah ia bisa merasakan empati terhadap orang-orang yang ia sedekahi? Atau baginya orang-orang itu hanyalah sekadar alat untuk membuat diri sendiri mendapatkan pahala?

Setahu saya, kemiskinan adalah sebuah masalah. Maka kita harus berusaha menyelesaikan masalah itu, bukan malah merayakannya. Tidak perlu takut kehilangan kesempatan untuk berbuat kebajikan, sebab yang bisa kita lakukan bukan hanya mengatasi masalah, tapi juga memelihara dan menjaga agar masalah itu tidak muncul kembali. Kalau suatu saat di dunia ini tidak ada lagi orang miskin (karena semua orang sudah makmur dan sejahtera), maka itu adalah kabar gembira, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sayangnya, hal itu masih jauh dari kenyataan sekarang.

Tags: slip of the mind
1 note  ()
  1. namelessorder posted this