~ Sunday, January 29 ~
Permalink
[Flash 9 is required to listen to audio.]

Musik terbaru yang saya bikin pake FL Studio. Agak beda sih dengan yang sebelum-sebelumnya. Komentar dong? Termasuk genre apa ya?

Tags: FL
1 note  ()
~ Friday, January 27 ~
Permalink

Tujuh AC dan Biaya Kuliah

Ada seorang bapak-bapak yang sering saya temui ketika jam istirahat kerja. Meskipun umurnya sudah tua dan sudah lama bekerja, tapi ia cuma karyawan biasa. Ia selalu tertawa dan tersenyum menghampiri siapa saja yang ia temui di warung kopi. Saya tidak menanyakan namanya, atau mungkin saya pernah bertanya tapi sudah lupa. Dia bukan bapak yang dipanggil “Bapak” oleh seorang ajudan, ia hanya seorang bapak yang dipanggil “Bapak” oleh orang yang tidak mengetahui namanya—dan oleh anak-anak kandungnya sendiri.

Pada suatu siang, saya sempat mengobrol dengannya. Ia bercerita tentang kebingungannya karena harus membiayai biaya sekolah dan kuliah anak-anaknya (salah satu anaknya baru lulus SMA). Saya tahu dia pusing, dia gelisah, dan dia lelah. Tapi dia bukan contoh yang unik. Dia hanyalah

Read More

Tags: pengalaman
3 notes  ()
Permalink

Pepper Spray

  • Pedagang: Neng, ini pepper spray-nya Neng, buat jaga-jaga kalo naik angkot.
  • Eneng: Berapaan Bang harganya?
  • Pedagang: 75 ribu aja.
  • Eneng: Ah, mahal banget. Cuma merica aja kok mahal?
  • Pedagang: Ini bukan sembarang merica, Neng, ini dibuat dari merica pilihan berkualitas, lebih pedes dari merica biasa. Dijamin penjahat yang kena semprot ini matanya langsung buta sementara!
  • Eneng: Ah masa? Buktinya apa?
  • Pedagang: Buktinya?
  • Eneng: Iya, tau dari mana saya kalau semprotan ini bener-bener pedes? Kalau ternyata hambar gimana? Bahaya kan nanti kalau saya hampir diperkosa orang, ternyata semprotan ini nggak pedes!
  • SROOOOT!

 ()
~ Tuesday, January 24 ~
Permalink

Saya kasihan pada Senin. Setiap kali ia muncul membawa kesibukan, orang-orang membencinya. Mereka bilang “I hate Monday”. Tapi ketika ia datang sebagai hari libur, tak ada yang memujinya dan berkata “I love Monday”.


1 note  ()
~ Saturday, January 21 ~
Permalink

Tentang Sebuah Grup di Facebook

Awal dia mengajak saya bergabung di grup Facebook-nya, dia adalah orang yang objektif, kritis, dan tidak mudah terhasut. Dia adalah seorang ekspatriat yang tinggal di Indonesia dan tampak begitu tertarik untuk mencari titik temu perdamaian antara agama-agama di dunia, terutama agama Islam, Kristen, dan Yahudi (kebetulan saat itu memang sedang ramai masalah konflik agama dan isu-isu terorisme yang mengatasnamakan Islam). Melihat komentar saya di salah satu forum, dia bilang dia tertarik untuk mengajak saya bergabung dengan grup diskusinya, karena menurutnya saya memiliki cara pandang yang moderat. Menurutnya, dengan mengumpulkan orang-orang berpikiran moderat dan toleran dari berbagai agama, kita akan bisa berdiskusi dengan kepala dingin dan mencari solusi untuk mendamaikan ketiga pemeluk agama tadi, yang tentunya tidak mungkin ia lakukan bersama orang-orang ekstrimis.

Read More

Tags: pengalaman
 ()
~ Wednesday, January 4 ~
Permalink

Toilet



Pasti banyak yang setuju kalau saya bilang bahwa banyak keputusan-keputusan penting dalam hidup kita yang dibuat di toilet atau kamar mandi. Fungsi toilet sebagai ruang perenungan (selain sebagai tempat buang air) mungkin sudah disadari oleh manusia sejak berabad-abad lalu (?), sejak manusia berakal pertama kali menyadari bahwa rawa dan semak-semak sudah tidak nyaman lagi untuk dijadikan tempat buang air.

Kegiatan buang air umumnya merupakan sebuah kegiatan yang sangat personal. Ketika buang air, Anda terisolasi dari dunia luar, dari hiruk pikuk peradaban manusia, dari derasnya arus informasi yang menghantam kepala (kecuali kalau Anda tipe orang yang suka buang air sambil membaca koran), dan dari interupsi kehadiran manusia-manusia lain. Pada saat buang air, Anda menjadi diri sendiri seutuhnya.

Di dalam keheningan dan kesejukan ruangan Anda melamun, karena memang tak ada hal lain yang bisa dilakukan. Saat melamun, ada banyak hal yang terlintas dalam pikiran Anda. Akui saja, hal-hal filosofis seperti makna kehidupan, masa lalu yang terlupakan, serta bagaimana menciptakan dunia yang ideal paling sering melintas dalam pikiran Anda ketika sedang berada di toilet atau kamar mandi. Saat buang air, Anda menjadi sangat idealis.

Saat buang air, Anda seringkali bermeditasi. Saat buang air Anda seringkali mendapat inspirasi. Tidak heran dulu Rieke Diah Pitaloka pernah membuat buku berjudul “Renungan Kloset”.

Bagi saya, ada beberapa kegiatan yang paling sering bisa memunculkan inspirasi. Salah satunya adalah menaiki kendaraan. Berada di dalam mobil yang bergerak statis seringkali membuat saya melamun dan mendapatkan ide-ide brilian, apalagi kalau pemandangan di luar jendela terlihat indah. Selain itu, ide-ide brilian lain seringkali saya dapatkan ketika berada di toilet. Sudah bukan hal yang tabu lagi untuk membuat bait-bait puisi cinta sambil buang air besar. Contohnya adalah puisi singkat yang pernah saya buat beberapa tahun lalu:

Puisi Cinta Pagi-Pagi

1

tiap pagi aku mencipta puisi
untuk wanita, bukan lelaki
yang selalu kubuat terharu
ia tanya: bagaimana mencipta puisi?
kujawab: puisi memilih aku
dan aku memilih kamu
ia tersipu
maka aku dinobatkan sebagai lelaki paling romantis
sejagat raya

tiap pagi di tiap hari aku mencipta puisi
untuk dirinya, yang kucintai
cinta ditukar puisi, dan ia akan berikan apa saja
karena puisi. jiwa raga hati pikiran perhatian hidup mati
ia tanya: darimana sumber insprasi
kujawab: tak perlu tahu
itu rahasia karya seni
ia tersipu
kata-kata di atas kertas bagaikan melodi
meluluhkan hati

2

tiap pagi aku mencipta puisi
puisi cinta bagai pelet
yang dengan sebenar-sebenarnya kubuat
sambil berjongkok di toilet

Maaf kalau tulisan saya kali ini terasa agak jorok, dan maaf kalau Anda jadi bisa menghirup aroma-aroma WC dari layar komputer Anda saat ini. Saya cuma berharap agar biaya perbaikan toilet DPR yang memakan biaya 2 miliar itu bisa membuat para wakil kita dapat merenungkan ide-ide brilian di dalam toilet. Kalau bisa, mungkin sebaiknya gedung DPR itu isinya dibuat toilet semua saja. Bayangkan, seandainya mereka sidang atau rapat sambil buang air besar, ide-ide brilian dan filosofis luar biasa macam apa yang dapat dihasilkan? Bayangkan.

Tags: opini
 ()
~ Tuesday, January 3 ~
Permalink
Semoga tahun ini kita dijauhkan dari writer’s block.Via someecards

Semoga tahun ini kita dijauhkan dari writer’s block.

Via someecards


 ()
~ Friday, December 30 ~
Permalink
surrealism:

Naissance d’une galaxie (Birth of a Galaxy) by Max Ernst, 1969. Oil on canvas, 92 x 73 cm.

surrealism:

Naissance d’une galaxie (Birth of a Galaxy) by Max Ernst, 1969. Oil on canvas, 92 x 73 cm.

Tags: Reblog
121 notes  ()
reblogged via surrealism
~ Thursday, December 29 ~
Permalink

Untitled

Saya tidak pernah benar-benar membenci keramaian. Saya suka berada di tengah keramaian, di tengah kumpulan orang yang saling berinteraksi, tapi saya tidak suka—atau tidak terbiasa—menjadi bagian dari keramaian itu. Mungkin saya hanyalah seorang pengamat pasif. Selama ini saya punya kebiasaan untuk pergi seorang diri ke tempat-tempat ramai hanya untuk melihat-lihat dan mendengarkan, mengambil tempat duduk di mana saya bisa bebas memperhatikan sekeliling tanpa harus menjadi pusat perhatian.  Lalu pada saat itu biasanya muncullah sebuah rangkaian narasi di dalam kepala, seperti suara narator di sebuah film dengan mata saya sebagai kameranya.

Read More

Tags: personal
 ()
~ Wednesday, December 28 ~
Permalink

Bila Tak Ada Orang Miskin

Pada suatu khutbah Jumat, seorang khatib tengah membahas mengenai keberagaman dalam hidup manusia. Ia berbicara mengenai perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa, perbedaan bentuk fisik, sampai perbedaan keyakinan beragama. Saya tidak merasa terganggu dengan masalah perbedaan keyakinan yang ia sampaikan, saya justru merasa terganggu ketika ia membahas masalah kaya dan miskin. Dalam satu kalimatnya ia mengungkapkan bahwa kaya dan miskin adalah keberagaman dan keseimbangan. Ia mengatakan bahwa orang miskin memiliki kegunaan (saya buat miring karena maknanya bisa jadi bernuansa konotatif) yaitu sebagai penerima sedekah. “Bayangkan kalau tidak ada orang miskin, kepada siapa kita akan bersedekah?” katanya. Dengan demikian, orang-orang miskin dianggap sebagai ladang pahala.

Ya, pernyataan itu ada benarnya, sebab bisa dianggap sebagai suatu usaha untuk mendorong orang-orang agar mau bersedekah. Tapi yang membuat saya bingung adalah cara dia dalam memandang kemiskinan.

Seolah-olah, kemiskinan itu adalah sesuatu yang harus ada. Karena kalau tidak ada orang miskin “kepada siapa kita akan memberikan sedekah?”. Bagi saya itu aneh. Mengapa kita bisa-bisanya memandang penderitaan orang lain sebagai sesuatu yang menguntungkan untuk diri kita? Bagaimana mungkin kita resah membayangkan orang lain menjadi makmur dan sejahtera? Ketika seseorang bersedekah dengan pola pikir seperti itu, apakah ia bisa merasakan empati terhadap orang-orang yang ia sedekahi? Atau baginya orang-orang itu hanyalah sekadar alat untuk membuat diri sendiri mendapatkan pahala?

Setahu saya, kemiskinan adalah sebuah masalah. Maka kita harus berusaha menyelesaikan masalah itu, bukan malah merayakannya. Tidak perlu takut kehilangan kesempatan untuk berbuat kebajikan, sebab yang bisa kita lakukan bukan hanya mengatasi masalah, tapi juga memelihara dan menjaga agar masalah itu tidak muncul kembali. Kalau suatu saat di dunia ini tidak ada lagi orang miskin (karena semua orang sudah makmur dan sejahtera), maka itu adalah kabar gembira, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sayangnya, hal itu masih jauh dari kenyataan sekarang.

Tags: slip of the mind
 ()