Perbankan Gaib

“Sampean tidak percaya saya bisa menggandakan uang?” tanya Eyang Sanca, alisnya mengerut dan posisi duduknya maju ke arahku.

“Nggak percaya. Mana mungkin uang bisa digandakan? Apa Eyang pikir saya ini orang kampung yang bisa dibodohi? Saya ini orang kota, berpendidikan!” jawabku sambil menahan tawa.

Eyang Sanca menarik napas dalam, lalu mengurut-urut jenggotnya. “Pernah ke bank, kan?”

“Pernah dong!” jawabku.

“Sampean jangan kaget kalau saya bilang, bank itu sama seperti saya, sama-sama dukun pengganda uang!” 

Aku berdeham, sepertinya aku mulai paham jalan pikirannya, tapi aku ingin mengujinya sedikit. “Maksud Eyang?”

“Kalau sampean pergi ke bank, masukin uang di tabungan, deposito, atau investasi lainnya, uang sampean bertambah banyak, kan?” ujarnya sambil melipat tangan di depan dada.

“Iya, saya tau itu.”

“Nah, apa bedanya? Uang sampean sama-sama jadi berlipat ganda tanpa sampean harus kerja dan cuma tidur-tiduran di rumah. Berarti, konsep menggandakan uang itu bukan sesuatu yang ndak masuk akal. Iya toh?”

Kutatap raut mukanya. Aku tak bisa meremehkan dukun ini, ternyata ia pintar berkelit juga. 

“Kalau Eyang sama saja dengan bank, lalu buat apa saya pergi ke Eyang? Lebih enak ke bank, biaya administrasinya lebih rendah; kantornya sejuk pakai AC, nggak bau kemenyan seperti ini; petugasnya juga perempuan cantik, bukan kakek-kakek peyot begini,” ucapku pelan.

“Jangan kurang ajar, ya!” suaranya meninggi. “Biar saya kasih tau kenapa saya lebih hebat, bunga yang saya tawarkan itu lima ratus persen! Lebih tinggi dari bank mana pun!”

Tawaku hampir meledak mendengar penjelasannya. Jelas-jelas dia ingin menipuku. “Omong kosong! Mana bisa bunga sebesar itu? Diinvestasikan untuk bisnis apa uang saya? Saham apa?”

“Investasi gaib!”

“Apaan gaib?”

“Ini perbankan gaib! Jelas beda dengan perbankan konvensional!”

Ia mengeluarkan sebuah buku dari kantong kemeja batiknya. Sebuah buku tabungan berwarna hitam dengan tulisan putih “Bank Gaib, Sanca Bank”.

Ia menjelaskan, “Sampean tau, kan, kalau nilai mata uang itu beda-beda? Nilai dolar Amerika lebih besar dari nilai rupiah, misalnya. Sekarang biar saya kasih tau, nilai mata uang di dunia gaib itu nilainya beratus-ratus kali lipat dari nilai rupiah!”

“Mata uang gaib? Apa lagi itu?”

“Sampean belum pernah ke alam jin, kan? Pantas ndak tau. Saya bisa kasih bunga sampai lima ratus persen karena saya ini menjalankan usaha perbankan dan perekonomian antardimensi, tepatnya alam manusia dengan alam jin,” jelasnya. “Ndak semua orang bisa, cuma dukun yang punya kekuatan saja yang bisa”

Aku menghela napas. Menarik juga dukun ini. 

Hup!

Pagi tadi, di pinggir jalan depan gedung KPK, seorang wanita sedang asyik menggunakan komputer tablet. Tanpa sadar ia bergerak mundur-mundur, padahal di belakangnya ada seorang bapak-bapak yang sedang melintas. Tubuh belakang wanita itu pun menubruk si bapak. Namun hal yang paling menarik perhatian saya, tangan kiri si bapak dengan sangat lihainya tiba-tiba memutar dan telapak tangannya terbuka. Hup, mendaratlah bokong wanita itu dalam cengeraman tangan si bapak. Sang wanita tampak kaget dan malah bilang maaf, sementara si bapak hanya menoleh sebentar dan tersenyum genit.

Beberapa meter di belakang mereka, saya hanya mengamati, menduga semua itu memang murni kecelakaan.

Lift

Tadi pagi saat saya masuk ke dalam lift yang kosong, ada seorang perempuan yang berlari ingin masuk juga. Berniat menolong, saya pun menekan tombol agar lift itu tidak langsung naik dan perempuan itu bisa ikut masuk. Namun aneh sekali, saat sedang melangkah masuk, perempuan itu malah terjepit pintu lift. Ia pun menjerit. Saya tekan tombol itu semakin kuat, saya tekan-tekan terus, ia malah semakin terjepit dan menjerit.

Sedetik kemudian, saya baru sadar bahwa tombol yang saya tekan dari tadi ternyata adalah tombol untuk menutup pintu lift.

Dan ini bukan kejadian pertama.

Jadi begini, tadi di Instagram ada seleb yang pasang gambar mata gitu, terus entah kenapa banyak yang komentar nyebut-nyebut dajjal dan illuminati. Karena iseng, saya komentari aja di bawah foto itu, “Illuminati keren, tau!”. Lalu beberapa menit kemudian langsung muncul komentar seseorang di halaman saya, “Lo Islam bukan?!”, tanyanya.

Apa coba?

Tukang Ikan

  • Pembeli: Ikannya, Bu.
  • Penjual: Mau ikan apa, Mas?
  • Pembeli: Ikan itu.
  • Penjual: Ikan itu apa?
  • Pembeli: Ikan yang saya tunjuk.
  • Penjual: Ikan itu punya nama, Mas. Ikan apa?
  • Pembeli: Saya lupa namanya.
  • Penjual: Ikan ini mati untuk Anda. Dan Anda tidak bisa menghormatinya sedikit saja, bahkan sekadar mengigat namanya?

Ngangkang

Pada suatu siang di kantin, seorang pria melihat seorang perempuan yang duduk dalam posisi mengangkang dan memakai rok mini sehingga celana dalamnya kelihatan. Sebagai pria yang baik, ia ingin memberi tahu perempuan tersebut. Namun tiba-tiba saja terbersit dalam benaknya: Bagaimana kalau ia memang sengaja duduk dalam posisi seperti itu? Bukankah itu adalah haknya, dan aku tidak berhak mengatur-ngatur posisi duduknya. Aku menghormati kebebasan orang lain.

Pria itu mengalami dilema. Bila ia memberi tahu si perempuan, ia takut disangka misoginis karena seolah mencoba mengatur-ngatur perempuan. Namun bila ia diam saja, ia takut disangka tidak peduli, atau bahkan dituduh hidung belang. Setelah merenung, akhirnya ia memilih keputusan yang menurutnya paling bijaksana dan tanpa praduga.

Pria itu mendekati si perempuan, lalu bertanya,
“Mbak, saya mau tanya. Apakah Mbak duduk ngangkang dengan sengaja?”

Terjadi keheningan selama beberapa detik, diikuti suara tamparan yang nyaring.

Kepala Dua

Malam ini saya terpaksa pulang kehujanan. Sambil setengah berlari melewati gang, saya melihat sebuah sosok yang bergerak-gerak di lantai teras rumah tetangga. Sosok itu seperti tubuh manusia yang tengah duduk di atas lantai, tapi memiliki dua buah kepala. Rasa penasaran saya memuncak. Makhluk apa itu? Ketika saya melewati pagar rumah itu, akhirnya saya bisa melihatnya dengan lebih jelas. Tidak. Ternyata bukan satu tubuh yang berkepala dua, melainkan ada dua tubuh. Ya, dua tubuh yang bertumpuk menjadi satu, dengan kepala mereka saling beradu dan bergerak meliuk-liuk di pojok teras.

Oh, lalu saya paham. Sepertinya ada anak tetangga yang sedang mencari “kehangatan” di tengah hujan lebat. 

Sesampainya di rumah, muncul pertanyaan. Siapa mereka? Benarkah anak tetangga? Saya tidak boleh terlalu yakin, karena di tengah hujan itu saya berjalan dengan cepat dan terburu-buru. Saya tidak sempat melihat wajah mereka … atau apakah mereka punya wajah.

Petualangan ke Perpustakaan

Hari Sabtu ini saya memutuskan untuk mencari tempat menulis di luar. Setelah mendapat saran dari beberapa kawan di Twitter, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Perpustakaan Umum Daerah di wilayah Kuningan, dekat Pasar Festival. Tentu karena lokasinya yang paling dekat.

Setelah bertanya pada beberapa satpam dan tukang ojek, akhirnya saya menemukan lokasi perpustakaan tersebut, yaitu di lantai tujuh Gedung Nyi Ageng Serang, dekat dengan gedung KNPI. Satpam gedung menyuruh saya untuk masuk lewat basement kalau ingin pergi ke perpustakaan. Entah kenapa sepertinya ia bisa membaca pikiran saya.

Tiba di basement, saya kembali dibuat bingung. Terdapat beberapa pintu yang berjajar di sebelah kanan yang memiliki bau seperti bau toilet.

Tak lama kemudian segerombolan anak usia SD berlarian masuk ke salah satu pintu yang ternyata sudah terbuka sejak tadi. Saya mengikuti mereka. Gerombolan itu kalau tidak salah terdiri dari tiga orang anak laki-laki hiperaktif dan lima orang anak perempuan

Read More

Penyakit Orang Tua

Semakin tua, semakin mudah kita terjangkit “penyakit” orang-orang tua, salah satunya adalah mengagungkan generasi sendiri dan meremehkan generasi yang lebih muda. Saya sering mendengar komentar dari generasi tua semacam “anak zaman sekarang sih sekolah/kuliahnya gampang ya, zaman saya dulu sih bla bla bla.”

Lucunya, belakangan saya juga mulai punya pikiran yang serupa (anak zaman sekarang sih enak ya, udah ada ini itu, zaman kita sekolah dulu sih bla bla bla), meskipun umur saya sekarang belum juga 25.

Lantas apakah itu berarti kehidupan manusia semakin lama semakin enak dan mudah? Ah, nggak juga, setiap masa punya tantangannya sendiri-sendiri. Tampaknya ini cuma mekanisme pertahanan diri saat kita merasa tertinggal (atau ditinggal) oleh perubahan zaman. Orang yang semakin tua akan merasa panik ketika menyadari betapa singkatnya masa kejayaan mereka. Ditambah lagi bagi mereka yang minder karena merasa dikalahkan oleh orang-orang yang lebih muda.

Mumpung sadar, penyakit ini mesti kita hindari. Kalau tidak, mungkin suatu hari nanti kita akan berubah menjadi kakek-nenek yang selalu menggerutu memarahi dunia … sembari diam-diam memendam kekecewaan terhadap diri dan masa muda yang sudah mati.


image

Aku terbang menembus batas langit, lalu aku tiba di laut.

twitter.com/rivaimuhamad

view archive



Cerpen

Puisi

About Me

Ask me anything